Banner
DITPSMKedukasi
Galeri Photo Terbaru
"SMART" Clock
Jajak Pendapat
Bermanfaatkah Website sekolah bagi anda
Ragu-ragu
Tidak
Ya
  Lihat
Statistik

Total Hits : 336569
Pengunjung : 75136
Hari ini : 94
Hits hari ini : 222
Member Online : 4
IP : 54.156.69.204
Proxy : -
Browser : Opera Mini


:: Kontak Admin ::

asmaraamir   
Agenda
21 September 2017
M
S
S
R
K
J
S
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
Login Member
Username:
Password :

Seorang Guru SMK Negeri 4 Gorontalo "Titin Robiyanti Badu" Menulis sebuah Artikel yang telah di Muat di Media Cetak terkait Manfaat Pelaksanaan Ujian Nasional berbasis Komputer di Sekolah Menengah Kejuruan, yang fokus membahas tentang Pentingnya Kejujuran dalam Melaksanakan Ujian, dan sesuai dengan motto Ujian Nasional Berbasis Komputer di Provinsi Gorontalo yaitu : "PRESTASI PENTING, JUJUR yang UTAMA" 




Berikut adalah Isi Artikel  : 

 

LOMBA MENULIS ARTIKEL (OPINI) GURU

OLEH : TITIN ROBIYANTI BADU, S.Pd.

GURU SMK NEGERI 4 GORONTALO

 

BASMI BUDAYA MENYONTEK

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) sudah di depan mata, baik tingkat SD, SMP dan SMA/SMK. Banyak hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan pada pelaksanaan ujian nasional apalagi yang berbasis komputer seperti ketersediaan sarana dan prasarana. Selain masalah sarana dan prasarana yang perlu diperhatikan, tetapi yang tak  kalah pentingnya pada pelaksanaan ujian nasional kali ini adalah apakah siswa dapat menjawab soal dengan baik dan jujur atau tidak? atas jawaban yang benar tanpa ada campur tangan dari pihak manapun, karena masih banyak juga siswa saling menyontek jawaban pada saat pelaksanaan Ujian Nasional maupun ujian lainnya yang dilaksanakan oleh sekolah.

 Pada dasarnya menyontek merupakan suatu tindakan yang tidak jujur dan dilakukan dalam keadaaan sadar untuk menciptakan keuntungan sehingga mengabaikan prinsip kejujuran dan kebenaran.Terkadang siswa kita tidak menyadari bahwa menyontek itu bukan saja melihat dan bertanya langsung jawaban pada saat ujian dilaksanakan baik ujian tengah semester, ujian semester maupun ujian nasional. Tetapi cakupan menyontek sangat luas antara lain: meniru pekerjaan teman, bertanya langsung kepada teman ketika mengerjakan soal, membawa catatan pada kertas atau pada anggota badan, menerima jawaban dari pihak luar, saling tukar jawaban dengan teman, mencari bocoran soal, menyuruh orang lain mengerjakan tugas, berbisik-bisik pada saat ujian berlangsung, melihat jawaban/materi di internet (HP), serta memberi kode/simbol pada jari tangan pada saat pelaksanaan ujian berlangsung.

Anehnya, perbuatan contek menyontek dikalangan pelajar sampai saat ini masih saja ada, dan tidak pernah terdengar ada sanksi, skorsing, pengurangan nilai atau pembatalan kenaikan kelas bagi siswa yang ketahuan menyontek dalam ulangan. Tidak pernah ada dalam rapat orang tua, guru, kepala sekolah, pengawas, dan pembina pendidikan membicarakan masalah menyontek, sekolah seakan menutup diri, seolah-olah semua siswa-siswinya bersih dalam praktek menyontek. Satu hal lagi yang merugikan para siswa adalah sistem penilaian guru sangat subyektif, kebanyakan menilai jawaban siswa saja, tanpa melihat proses bagaimana ia mendapatkan nilai tersebut, sehingga menimbulkan kerugiaan tidak hanya pada siswa yang pintar tetapi juga pada siswa yang malas. Jika ini terus dibiarkan saja oleh kita sebagai guru, orang tua murid, pemerhati pendidikan, pejabat pemerintah dan semua komponen masyarakat lainnya, maka dunia pendidikan tidak akan maju, malahan menciptakan manusia tidak jujur, malas, yang cenderung mencari jalan pintas dalam segala sesuatu dan akhirnya menjadi manusia yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkannya.
         Selain itu, terkadang kita sebagai pelaku pendidik khususnya guru, sering  juga lupa akan tanggung  jawab terhadap tugas yang diemban kepada kita. Ada sebuah kalimat sering kita dengar “orang mencuri pasti ada kesempatan” kalimat ini, sangat tepat sekali dengan keadaan siswa sekarang ini. Mengapa? Karena mereka menyontek pasti ada kesempatan, mengapa ada kesempatan? karena pengawasnya hanya mondar-mandir ke sana-kemari, keluar ruangan, tanpa memperdulikan apa yang menjadi tugasnya, bahkan ada yang buka leptop,  bercerita dengan teman, bahkan mengotak-atik HP membuka fasebook (membuat status). Kalau dulu, sebelum ujian dimulai seluruh ruangan diperiksa oleh pengawas ruang, seluruh siswa berada di luar, saku baju,  laci meja, bahkan kuku dan rambut pun diperiksa. Pengawasnya berdiri terus, muka mereka kurang bersahabat, kalau ketahuan ada sisipan jawaban atau buku, itu pasti jadi masalah besar. Tapi, sekarang tidak seperti itu, jangan heran mengapa siswa suka menyontek.

Kalau sekolah memiliki integritas dan sistem yang baik, secara tidak langsung akan berdampak pada lingkungan sekolah terutama berdampak positif pada sikap siswanya. Contoh suatu kejadian pernah terjadi di Sekolah Dasar (SD) unggulan yang ada di Gorontalo. Pada saat pelaksanaan ujian nasional berlangsung, ada salah satu siswa pada saat itu agak kesulitan menjawab soal, pengawas tidak tega melihat anak tersebut langsung memberikan petunjuk terhadap soal yang agak sulit. Tapi, anak tersebut hanya menutup telinganya dan menjawab kepada pengawas tersebut, “Maaf Bu, DOSA!.

Nah, kalau seluruh siswa kita memiliki pemahaman dan sikap seperti itu, apalagi sudah ditanamkan sejak kecil, saya pastikan pendidikan di Indonesia jauh  lebih baik. Seharusnya, aturan yang sudah ada lebih dipertegas lagi oleh masing-masing sekolah, agar kebiasaan menyontek dikalangan siswa tidak terulang lagi. Seperti memberikan sanksi, berupa pengurangan nilai, dan juga berupa skorsing, atau lebih keras lagi pembatalan kenaikan kelas bagi siswa yang ketahuan menyontek. Mengapa masalah menyontek perlu kita basmi? Karena memang kenyataan sekarang ini, contek menyontek sudah hal yang biasa dilakukan oleh siswa. Mereka sudah tidak belajar lagi, kalau ada Pekerjaan Rumah (PR) mereka menjalin pekerjaan temannya, rasa malu mereka tidak ada lagi. Selain itu, pada saat ujian tengah/semester mereka tidak belajar, jawaban diisi dengan hal-hal yang tidak masuk akal, sering mereka menggunakan HP sebagai tempat untuk melihat jawaban, terkadang timbul kenakalan mereka, mereka merampas hasil jawaban temannya, sungguh miris moral dan pendidikan kita saat ini.

  Berbagai upaya sudah dilakukan oleh pemerintah khususnya KEMENDIKBUD untuk mengantisipasi budaya monyontek antara lain; pengintegrasian nilai-nilai karakter melalui program dan proses pembelajaran yang membutuhkan komitmen oleh semua guru, melalui ujian nasional dengan 20 paket soal yang berbeda, serta akhir-akhir ini sistem pelaksanaan ujian nasional sudah diarahkan melalui UNBK obyektifitas dan efisiensi dapat diukur. Ini semua suatu bentuk perhatian pemerintah untuk perbaikan sistem pendidikan kita, juga merupakan solusi agar siswa tidak menyontek dan selalu bersikap jujur dalam hal apapun, agar generasi ke depan  berjiwa/bermental baik. Tetapi, sampai sekarang pun budaya menyontek dikalangan siswa masih saja ada, bahkan lebih parah lagi.

Untuk itu, apakah kita sebagai pelaku pendidikan hanya membiarkan siswa melakukan tidakan menyontek seperti itu? ataukah kita masa bodoh dengan apa yang terjadi sekarang ini? Yang pasti kita harus melakukan upaya pencegahan  dengan cara apapun. Tinggal bagaimana kita sebagai pelaku pendidikan yang berhubungan langsung dengan siswa. Sistem pengawasan  pelaksanaan ujian tengah/semester harus diperketat, penilaian harus dilakukan sesuai tahapan penilaian secara benar, dan juga guru dapat melaksanakan tahapan proses pembelajaran sesuai dengan yang rencanakan, guru selalu mengawasi dengan baik tanpa memberikan peluang bagi siswa untuk saling bertanya pada saat mengerjakan tugas dan juga pada saat ujian berlangsung, yang lebih penting lagi seharusnya setiap sekolah selalu memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada siswa bahwa menyontek itu adalah suatu tindakan yang tidak jujur mengabaikan tentang kebenaran dan itu adalah DOSA. Beberapa upaya inilah yang harus dilakukan pihak sekolah terutama guru, agar kebiasaan menyontek dikalangan siswa lebih terminimalisir, dan semua ini membutuhkan komitmen dari semua elemen yang ada di dunia pendidikan.

            Oleh karena itu, mari kita memperhatikan dan memperbaiki sistem dunia pendidikan, agar budaya menyontek dikalangan siswa dapat diatasi. Dengan begitu tujuan pendidikan nasional dapat menyiapkan generasi bangsa yang berwatak luhur, jujur, sopan, serta bermartabat dapat tercapai. Apabila pendidikan benar-benar dilakukan melalui tiga tahap yaitu: perencanaan, pengawasan, dan evaluasi secara benar dan tepat.